Teknologi Kemograpi Invasif Disebut Lebih Efektif dalam Pengobatan Kanker Payudara

Kesehatan » Mashudi | 19/10/2017 15:00:00 WIB

Dalam rangka memperingati hari kanker yang jatuh setiap tahunnya pada tanggal 18 Oktober, Jakarta Western Medical Association telah menggelar  Simposium Internasional ASEAN mengenai teknologi Metode Minimal Invasif.

Simposium bertajuk “2017 bertindak bersama untuk melawan kanker payudara” menghadirkan para tenaga ahli medis dari St. Stanford International Medical dari Guangzhou, Tiongkok pada hari Ahad (15/10) di Jakarta.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan St. Stanford International Medical, bahwa angka kejadian kanker di Jakarta pada khususnya, dan di Indonesia pada umumnya cukup tinggi.

"Kedatangan kita kesini adalah untuk memperingati hari kanker yang jatuh pada tanggal 18 Oktober," ujar Prof. Zhang Fujun, tenaga ahli kanker dari St. Stanford International Medical dalam wawancara khusus kepada wartawan di sela simposium.

Prof. Zhang Fujun menjelaskan, kita datang untuk membagikan edukasi, pengetahuan dan bagaimana cara pengobatan untuk kanker payudara, serta bagaimana dalam pencegahan.

Ditempat yang sama Prof. Liu Lu Guang menambahkan, untuk pengobatan kita sendiri berbeda, dimana kita melakukan pengobatan secara komprehensif yang ditangani oleh tiim dokter dan pengobatannya pun berbeda dengan yang ada saat ini.

"Kita menggalakkan pengobatan kemotrapi invasif," ujar Prof Liu Lu Guang yang turut mendampingi dalam wawancara dengan wartawan.

Dikatakannya, ada yang menggunakan pengobatan kemotrapi konvensional yang dilakukan rumah sakit kanker pada umumnya itu lewat pembuluh darah pena yang dialihkan lewat ke seluruh tubuh.

Sementara teknologi yang kita lakukan tindakan terhadap penderita kanker payudara, sambungnya, adalah ditujukan langsung kepada yang bermasalah, jadi obatnya itu pada tumor yang ada.

Dia mengklaim keunggulannya dibanding pengobatan lainnya, yaitu teknik pengobatan ini langsung di tujukan ke tumornya, dan tidak dialihkan ke seluruh tubuh.

"Maka dari itu efektivitas pengobatan itu tinggi, obat ditumornya itu banyak, sehingga dia punya kemampuan untuk membunuh tumor itu lebih kuat," paparnya.

Pada kesempatan ini dirinya mengharapkan teknik pengobatan ini agar lebih diketahui oleh masyarakat bukan hanya di Indonesia tapi di negara-negara lainnya juga.

Dengan dibukanya rumah sakit cabang di Jakarta ini, lanjutnya, sehingga kita bisa membagikan teknik pengobatan terbaru untuk penderita kanker yang ada di Indonesia, supaya mereka mengikuti pengobatan ini dengan hasil supaya bisa sembuh.

"Hal ini tentu saja didasari dari tingginya pasien yang berobat ke Tiongkok, setiap tahunnya ada 150-an pasien," tegasnya.

Untuk tingkat keberhasilan dibagi lagi, yakni untuk stadium awal tingkat keberhasilan bisa mencapai angka 80% sampai sembuh total, artinya tingkat keberhasilannya sangat tinggi sekali.

"Dan bagi penderita stadium awal yang berobat di rumah sakit kita hingga sembuh total membutuhkan waktu antara 3 sampai 6 bulan," tuturnya.

Sementara kalau sudah stadium 3, 4 dan 5 dari kanker payudara itu punya klaster sendiri untuk mempepanjang kelansungan hidup sampai 3 tahun, 4, 5 tahun dan ada juga sampai 10 tahun.

(rr/Syam)

Artikel Terkait :

Share : Twitter | Facebook

Kirim Komentar